Site icon Jerat NTB

Opini : Dibalik Kegigihannya Untuk Menjadi Tenaga Pengajar, Tersirat Kisah Pilu Yang Menginspirasi

Oleh Ais Jerat

Kegigihan Rato Sri Agusuriani, seorang guru honorer di SDN 29 Tanjung dalam mengikuti ujian seleksi tenaga PPPK tahun 2021 di wilayah kerja pemerintah daerah Kota Bima dengan menggunakan kursi roda mengundang perhatian dan rasa empati dari berbagai kalangan masyarakat. Namun dibalik kegigihannya tersirat kisah pilu yang menginspirasi.

Bagaimana tidak, dengan posisinya yang sekarang tinggal sendiri di tengah kondisi kakinya yang tidak bisa difungsikan lagi seperti sedia kala sampai ia mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan di IKIP Mataram, tidak mematahkan semangatnya untuk tetap mengikuti ujian seleksi menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkup pemerintah daerah Kota Bima.

“Iya mas, kaki saya lumpuh dan saya tinggal sendiri di rumah semenjak ke dua orang tua saya meninggal. Tetapi Alhamdulillah, Tuhan mendekatkan saya dengan tetangga-tetangga yang baik dan juga sahabat-sahabat yang baik yang sudi membantu saya hingga persyaratan untuk menjadi peserta ujian seleksi PPPK bisa terpenuhi”, ucapnya saat berkomunikasi dengan tim media ini lewat telepon seluler. Selasa, 14 September 2021.

Dulu sebelum ke dua orang tua saya meninggal, lanjutnya, saya sering mendapat teguran bahkan sampai dimarahi oleh Kepala Sekolah karena sering telat masuk kerja. Ini disebabkan karena saya harus menunaikan dulu kewajiban saya merawat ke dua orang tua saya. “Dulu sebelum ke dua orang tua saya meninggal, paling cepat jam 10 saya baru sampai sekolah, karena sebagai seorang anak dan tidak ada orang lain selain saya yang ada di rumah, saya memiliki tanggung jawab untuk merawat Ibu yang mengidap penyakit Tumor dan Bapak yang sementara juga mengalami penyakit Diabetes”, keluhnya dengan nada lirih.

Isak tangis Rato Sri Agusuriani pun terdengar jelas lewat speaker handphone tim media ini ketika hendak menyampaikan tahun kematian ke dua orang tuanya.

Dengan perasaan bersalah, tim media ini berusaha untuk menenangkannya mencoba meminta maaf karena sudah membuat hatinya kembali bersedih.

Isak tangis perlahan mereda, sesekali terdengar napasnya tertahan menandakan dia sedang mengembalikan kekuatan dirinya untuk tidak larut dalam kesedihan.

Setelah dirasa kalau Rato Sri Agusuriani sudah dalam keadaan tenang dan suasana sudah mulai normal, tim media ini memilih minta izin untuk menutup komunikasi dengan alasan ada agenda lain dan kapan-kapan akan dihubungi kembali tanpa harus memaksanya menyebut tahun kematian orang tuanya. Setelah mendapatkan izin, komunikasipun terhenti sampai pada malam hari ini Kamis (16/9) sekira pukul 21:08 wita komunikasi kembali terjalin hingga mendapatkan restu pemuatan ke media.

Semoga kegigihan Rato Sri Agusuriani dalam menunaikan tanggungjawab walau hanya sebagai guru honorer mengetuk hati yang lainnya terlebih khusus bagi yang sudah memiliki NIP untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya dengan baik

Exit mobile version