Peternak Sapi Tuntut Peran Gapehani dan Minta Biaya Ekspedisi 1,4 juta Tiap Ekor

Bima, Jeratntb.com – Gapehani yang diharapkan menjadi corong perjuangan petani ternak justru terkesan memanfaatkan kondisi ketergantungan para peternak dalam proses pemasaran hasil ternak.

Sebab tanpa melalui perusahaan yang memiliki ijin ekspedisi, proses pengiriman hewan ternak ke daerah tujuan tidak dapat dilakukan tanpa keterlibatan pengusaha yang tergabung dalam lembaga Gapehani.

Menganggap diri sebagai satu satunya tempat petani bergantung, Gapehani sesuka hati menentukan nominal biaya pengiriman tanpa perlu melibatkan dan mendengar aspirasi peternak sebagai rujukan logis.

Hal ini dikeluhkan puluhan peternak sapi pada kesempatan reses dewan dapil I di desa Tangga kecamatan Monta pada hari kamis (26/1-23).

Dihadapan Mustakim fraksi partai Nasdem dan Muhammad Sidik fraksi partai Golkar, para petani mengeluh dengan biaya ekspedisi yang dinilai tidak wajar dan sangat memberatkan petani.

Terlebih generator lembaga Gapehani murni diperoleh dari petani ternak. Sedikitnya seratus lebih juta rupiah uang peternak masuk ke kas Gapehani setiap tahun.

“Setidaknya biaya ekspedisi tidak terlalu mencekik kami, angka 1,6 juta per ekor kami rasa terlalu tinggi. Kami tidak berharap pengusaha ekspedisi tidak dapat untung tapi jangan juga merugikan kami sebagai petani. 1,4 juta adalah angka yang harusnya wajar dan itu sudah termasuk keuntungan bagi pengusaha ekspedisi,” ungkap Ramadhan salah satu peternak asal desa Sie.

Kami juga tidak buta informasi soal pos mana saja yang akan dikeluarkan oleh pengusaha, mulai dari pengambilan sampel darah, rekomendasi, bongkar muat, sewa kapal hingga ongkos angkut dari kapal ke kandang, yang kalau dikalkulasi tidak sampai 1,2 juta. Jadi, berilah harga yang wajar dan manusiawi. “Mereka membentuk diri dalam satu lembaga dengan operasionalnya dari keringat kami para petani ternak, bahkan parahnya mereka tidak keluar modal karena seluruh biaya kami bayar di muka,” ketusnya.

Petani lain dari desa Tangga Baharudin juga berpendapat bahwa keberadaan Gapehani yang didanai peternak hanya memikirkan keuntungan dari ekspedisi. “Mereka tidak bertanggungjawab atas apapun yang dialami kami maupun ternak selama dalam perjalanan, nasib kami bersama ternak selama dalam perjalanan menjadi tanggungjawab kami sepenuhnya. Pada kondisi ini Gapehani tuli dan buta,” bebernya.

Sebelumnya Camat Monta Muktamirin. S.Pd juga berharap agar Gapehani tidak hanya mengambil peran saat proses pemasaran hasil, melainkan juga secara maksimal memposisikan diri sebagai wadah yang mempermudah semua persoalan petani ternak agar menjadi petani sukses dan bekesenambungan. “Gapehani harus berperan lebih luas, baik sebagai mediator peningkatan SDM seperti pengolahan pakan yang baik tapi hemat biaya melalui berbagai pelatihan, mengedukasi petani dalam pemanfaatan dan pengadaan HMT, sampai pada upaya memperoleh modal dan bibit sapi murah dan berkualitas,” papar camat. (Jr)

Pos terkait