Site icon Jerat NTB

Kades Parado Cekik dan Ancam Bunuh Aktivis

Bima, Jeratntb.com -Kepala Desa Parado Rato Kabupaten Bima M. Saleh diduga menganiaya aktivis dan wartawan yang hendak melakukan koordinasi dan klarifikasi terkait penggunaan anggaran dana desa. Kades tiba-tiba mencekik seorang aktivis bernama Syamsurizal saat didatangi ke rumahnya pada Rabu (11/6/2025) sekitar pukul 16.00 wita. Selain, mencekik aktivis yang hendak bertamu tersebut, Kades juga mengancam akan membunuhnya.

Korban Syamsurizal menceritakan, penganiayaan dan ancaman itu terjadi saat dia dan rekannya seorang wartawan menyambangi kediaman Kades di Desa Parado Rato, bertujuan untuk silaturahim dan konfirmasi. Namun baru saja mengetok pintu rumah, Kades langsung mengamuk dengan mencaci maki aktivis yang datang.

“Kami baru sampai rumahnya dan tanpa basa-basi dia langsung marah-marah serta mengeluarkan kata-kata kasar sembari mencekik leher saya,” ceritanya.

Tidak sampai di situ, Kades juga sempat mengambil parang dan mengejar korban dan temannya. “Dia menyerang saya secara membabi buta untung saya cepat melarikan diri,” ujarnya.

Bahkan lanjut Syamsurizal, Kades sempat mengeluarkan bahasa ingin membunuhnya. “Sini saya bunuh kamu,” ujar korban menirukan ucapan Kades yang menggunakan bahasa Bima.

Kades juga menghina LSM, Aktivis dan wartawan. Dia bahkan menuding aktivisi dan wartawan sebagai maling. “LSM maling, Aktivis maling, wartawan maling,” kutip Syamsurijal.

Hal tersebut dibenarkan oleh Harmoko salah seorang wartawan Sergap yang juga berada di lokasi. Dia menilai sikap arogansi yang ditunjukkan oleh kades tidak pantas sebagai seorang pemimpin.

Sementara Harjono Efendi salah seorang rekan aktivis yang juga menyaksikan peristiwa itu mengakui langsung melarikan diri melihat reaksi Kades. “Saya kaget melihat parang di tangan Kades itu, saya kabur,” jelasnya.

Sementara itu, Kades Parado Rato M Saleh yang dikonfirmasi oleh media ini membantah tuduhan tersebut. Dia menilai apa yang disampaikan aktivis tersebut terlalu berlebihan.

“Memang saya sempat tersulut emosi dan memegang leher bajunya, setelah itu saya masuk ambil baju namun saat keluar saudara Rijal (Syamsurizal) sudah turun dari rumah,” ujarnya.

Kades juga membantah adanya kata-kata kasar. Dia meluruskan, ucapan yang ia sampaikan itu hanya memperingati mereka kalau bertamu harus beretika. “Jangan langsung naik rumah orang tanpa ijin, ketika tiga kali salam tidak ada jawaban anggap lah tidak ada orang,” sesalnya.

Kades mengatakan saat itu dirinya dalam keadaan panik, capek dan sempoyongan karena baru pulang dari pemakaman keluarga yang meninggal. Lebih lanjut Kades menceritakan, sepulang dari pemakaman langsung sholat dhuhur di rumah, kemudian tidur siang,

“Sekira berselang 15 menit kemudian tiba-tiba istri saya mendengar ada orang ketuk pintu di kamar tidur kami beberapa kali dengan keras disertai salam,” ujarnya.

“Kemudian istri membangunkan saya dan mengira ada orang yang ribut di luar, padahal tetangga saya di depan rumah sudan memperingati mereka bahwa saya sedang tidur,” jelas Kades. (Jr Iphul).

Exit mobile version