Bima, Jeratntb.com – Proyek Rehabilitasi dan Rekonstruksi Bangunan Pengendalian Banjir oleh PT. Waskita Karya Bima terus menuai sorotan, pasalnya mega proyek senilai 114 milyar ini diduga asal jadi, penguat tebing (bronjong) di Desa Tangga Kecamatan Monta, Kabupaten Bima, banyak terisi material batu berukuran kecil, yang memang tidak sesuai diameter mata kawat bronjong sehingga mengakibatkan kawat yang menjadi bahan utama bronjong menjadi kendor akibat bebatuan banyak yang lolos.

Ibrahim warga setempat, mengaku kecewa dengan hasil pekerjaan proyek bronjong tersebut,”banyak terisi batu berukuran kecil, dan meterial batunya terlihat sudah pecah juga,” ungkap dia.

Sementara hasil pantauan langsung media ini, juga terlihat beberapa anyaman kawat bronjong rusak (sobek), dan beberapa meterial batu terlihat menonjol dari kawat bronjong.

Tak hanya itu, posisi bronjong lebih rendah dari tebing pemukiman warga, “saya harap tinggi bronjong ditambah satu meter lagi, agar lebih tinggi dari tebing pemukiman warga,” jelas Ibrahim.

Selain itu, Ibu Muhtar pemilik lahan sekitar bibir sungai juga sesali pekerjaan bronjong tersebut, bahkan sering menegurnya namun tidak diindahkan.

Dia mengatakan, tukang yang mengerjakan proyek tersebut pernah diganti, “padahal tukang yang biasa kerjaannya bagus, namun diganti sehingga hasil tidak maksimal,” sesalnya.

Lebih lanjut, proses pekerjaan pun dikerjakan malam hari dengan tukang yang berbeda, sehingga kuat duguan perkerjaan asal jadi. Selain itu, lahan warga mengalami kerusakan hasil galian eskavator proyek tersebut, dan tanpa ditimbun kembali oleh pelaksana.

Galian proyek sepanjang kurang lebih 280 meter namun yang ditimbun kembali baru sekitar 50 meter. Sedangkan hasil pantauan lapangan, masih terlihat tumpukkan tanah dekat rumah warga.

Adapun lebar hasil galian, kurang lebih 3 meter dengan kedalaman lebih dari 1 meter. Ibu Muhtar meminta tanggung jawab Perusahaan Waskita agak tanahnya segera ditimbun kembali.

Menurutnya, kalau tidak segera ditimbun, besar kemungkinan akan longsor, sehingga lahan rumahnya terancam ikut tergerus,”ini kan musim hujan, saya khawatir lahan saya tergerus, apa lagi tebing ini lebih tinggi dari bronjong,” tegas Ibu Muhtar.

Ia sudah sering menghubungi pihak terkait atau pihak Perusahaan Waskita Karya, namun, katanya sampai sekarang belum juga ditimbun.

Proyek Rehabilitasi dan Rekonstruksi Bangunan Pengendalian Banjir yang harusnya memiliki azas manfaat, malah terkesan membuat warga merasa jengkel dan merugi.

PT. Waskita Karya (Persero) tbk sebagai pemenang tender dengan anggaran senilai 114 Milyar ini saakan tidak mau tau, pun pihak pengawas dan konsultan. (Jr Iphul).

Mari berbagi artikel ini