Bima, Jeratntb.com – Dapur MBG “SPPG Bima Monta Sakuru” kerap kali menjadi perhatian dari masyarakat dan penerima manfaat melalui media sosial terkait dengan ketidaklayakan menu serta keterlambatan pendistribusian peket makanan.
Seperti baru-baru ini, SPPG Bima Monta Sakuru disorot oleh Guru SMP Negeri 7 Satap mengeluhkan nasi yang disajikan berupa nasi kuning namun terlihat kusam. Yang menjadi perhatian adalah apakah nasi dengan kondisi seperti itu telah sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan apakah mencukupi standar gizi yang seharusnya dipenuhi.
Pengguna Facebook dengan nama akun “Dhion Dhian” dalam unggahannya, “Nasi kuning atau nasi biasa ini? Mohon diperbaiki, kok nasi kuningnya tidak ada rasanya. Ini hanya sekadar saran dan masukan, terima kasih.”
Unggahan itu pun menuai komentar para netizen, sementara itu, akun Facebook “SPPG Bima Monta Sakuru, memberikan klarifikasi melalui kolam komentar, menyatakan bahwa “itu bukan nasi kuning pak, dilarang BGN pake nasi kuning, racikan menu nasinya itu campur susu, makanya gak ada rasa”.
Namun, pandangan umum bahwa mencampur nasi dengan susu tidak dianjurkan karena dapat mengganggu standar gizi maupun kesehatan sistem pencernaan anak.
Dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG), susu seharusnya disajikan terpisah sebagai minuman pelengkap, bukan dicampurkan langsung dalam nasi atau makanan utama lainnya.
Apabila susu evaporasi benar-benar dicampur dalam nasi, hal ini dapat berisiko karena susu tersebut memiliki kandungan laktosa tinggi yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan bagi anak-anak yang intoleransi terhadap laktosa.
Dalam memenuhi standar gizi utama MBG, biasanya susu disajikan sebagai minuman pendamping yang terpisah, atau diganti dengan sumber kalsium alternatif seperti ikan atau brokoli, terutama di daerah-daerah tertentu di mana akses terhadap susu tidak memungkinkan.
Tak hanya itu, beberapa pekan lalu juga sejumlah penerima manfaat lainnya yakni guru di SMK yang menjadi viral di akun Facebook bernama “Widiarni Rinny” menyebutkan bahwa MBG untuk siswa/siswi SMK Negeri 1 Monta ditolak sebelum sekolah aktif kembali. Sebelumnya, pihak sekolah telah menginformasikan bahwa kegiatan belajar mengajar hanya sampai pukul 10 pagi. Namun, pengantaran MBG dilakukan pada pukul 11.30 ketika siswa sudah tidak berada di sekolah, padahal sebelumnya sudah diingatkan kepada kepala SPPG Bima Monta Sakuru. Sebelumnya, MBG juga pernah diantar dalam kondisi tidak layak konsumsi pada pukul 12 siang.
Keluhan tersebut menyebutkan bahwa saran dan masukan yang diberikan sering kali tidak diindahkan, meskipun sudah beberapa kali disampaikan.
Hal ini juga dikomentari oleh akun Facebook “Afidah Wardah Ridwan” yang menyatakan bahwa kritik dan saran hanya diiyakan namun tidak diimplementasikan. Pengantaran sering kali dilakukan setelah jam belajar berakhir, sehingga anak-anak sudah merasa lapar dan bahkan sudah pulang.
SPPG atau mitra penyedia makanan bergizi gratis bahwa setiap pelaksana di lapangan wajib menjalankan SOP secara disiplin, terutama dalam aspek keamanan pangan dan ketepatan distribusi.
Selain itu, akun Facebook “Tenks Conor Benn” juga mengunggah keluhan mengenai “MBG di SDN desa Simpasai, dengan menu makanan yang dianggap kurang layak”.
Unggahan ini juga mendapatkan komentar dari netizen, diantaranya akun Facebook “Meysha Rias Penganten” yang menggunakan bahasa daerah Bima, mengungkapkan bahwa lauk sering kali basi dan meskipun disebut bergizi, justru dapat menyebabkan anak-anak sakit.
Komentar lain dari akun Facebook “Yun Machy” menyatakan bahwa nasi yang disediakan tidak enak. Masih banyak komentar lain yang mengkritik ketidaklayakan dan kurang profesionalnya dapur MBG SPPG Aisya Sakuru Monta.
Menanggapi hat tersebut, media ini berusaha konfirmasi Kepala SPPG Bima Monta Sakuru, Fikram SH., melalui pesan WhatsApp tidak digubris.
Sementara itu, pengelaloh sekaligus sebagai pemilik Yayasan Uma Lengge Nggusu Waru, H. Arsyad Madjid, SE. juga tidak memberikan tanggapan sama sekali. (Ages).
SPPG Bima Monta Sakuru Kerap Menjadi Perhatian, Diduga Menu Tidak Layak dan Keterlambatan Distribusi Makanan



