Bima, Jeratntb.com – Hiruk pikuk peternak sapi Bima menjelang idul Adha setiap tahunnya diwarnai berbagai kendala terutama pemasaran dan ekspedisi.

Kendati demikian antusias masyarakat menggeluti usaha ini tetap tinggi, hal itu dapat dilihat pada volume pengiriman sapi setiap tahunnya.

Namun, semangat membangun ekonomi kerakyatan ini masih sangat membutuhkan dukungan sekaligus penyemangat dari berbagai pihak. Baik dalam segi modal lebih lebih akses pengiriman tanpa kendala.

Hal itu disampaikan Muhammad atau biasa dikenal dengan ‘Ncuhi Diha’ pada media ini minggu (22/5-22).

Menurutnya dukungan pemerintah melalui program KUR sudah tepat dan sangat membantu petani ternak, hanya saja pada proses pemasaran yang masih sangat membebani petani terutama soal ekspedisi. Hemat dia, petani baiknya diberi kebebasan untuk menemukan caranya sendiri dalam mengirim sapi mereka dan akses ini harus ada campur tangan pemerintah daerah.

“Melalui laut sudah sangat kecil kemungkinkan petani mendapat untung dikarenakan berbagai sebab biaya yang harus ditanggung.

Menjawab ini para petani lebih memilih jalur darat dengan satu kali pengangkutan dari kandang langsung ke lokasi pasar. “Akses ini perlu dukungan pemerintah daerah minimal mempermudah akses jalur fuso pengganti kapal laut,” harapnya.

Hal ini perlu dilakukan dengan alasan banyaknya peluang yang indikasinya memberatkan para petani, “Karena makin banyak ruang administrasi maka semakin besar indikasi pungli yang mengakibatkan beban biaya semakin tinggi. Saya dapat jabarkan biaya yang harus keluar untuk setiap ekor sapi jika melalui jalur kapal laut untuk satu paket ekspedisi yakni mulai dari rekom, PBM masuk, PBM keluar kapal dan sewa kapal. Saat ini nilai yang dipikul sebesar 1,6 juta, belum termasuk sewa truk dari kandang (rumah) ke kapal dan dari kapal ke kandang penampungan (pasar),” papar Muhammad.

“Dengan perhitungan di atas, selain 1,6 jt petani masih akan merogoh saku untuk angkutan dan sewa kandang sekitar 1,7 hingga 2 jt rupiah, yang artinya setiap ekor sapi baru dapat dipasarkan harus mengeluarkan biaya minimal sebanyak 3,6 juta,” lanjutnya.

Jika melalui jalur darat, petani hanya mengeluarkan biaya sebesar 1,2 juta ditambah sewa kandang, ungkapnya. (Jr)

Mari berbagi artikel ini